Review / Film

Captain Fantastic (2016): Sebuah Kritik (Lagi) terhadap Peradaban Modern

Memperhatikan judulnya sekilas, kita akan menebak bahwa film ini akan bercerita tentang tokoh pahlawan super dengan plot yang membosankan dan hanya mempertontonkan keajaiban-keajaiban teknik editing dan grafis 3 dimensi. Namun tidak, film ini justru bercerita tentang Ben Cash, seorang ayah single-parent yang hidup bersama enam orang anaknya di dalam hutan Pacific Northwest. Sepuluh tahun sebelumnya, ia dan istrinya memutuskan untuk meninggalkan hiruk pikuk peradaban kota dan memilih membeli sepetak tanah di tengah belantara. Suatu ketika, sang istri, Leslie, menderita bipolar disorder hingga harus dirawat di rumah sakit sehingga Ben harus membesarkan anak-anaknya seorang diri.

Captain Fantastic

Cukup menarik menyimak bagaimana keseharian Ben dan anak-anaknya. Berburu hewan serta meramu tanaman untuk konsumsi harian, latihan fisik dan bela diri, membaca dan mendiskusikan buku-buku mulai dari sastra, sejarah peradaban, hingga fisika quantum, serta bernyanyi dan bermain musik bersama di malam hari.

Suatu hari, istrinya dikabarkan mati bunuh diri. Orang tua Leslie menuduh bahwa Ben adalah penyebab sakitnya Leslie sehingga mereka tidak mengizinkan Ben menghadiri upacara pemakamannya dan mengancam akan menyerahkannya ke Polisi jika berani datang. Awalnya Ben pasrah dengan keputusan mertuanya tersebut, namun keinginan kuat anak-anaknya untuk melihat sang ibu untuk terakhir kalinya akhirnya membangkitkan keberanian Ben. Maka dimulailah Mission Rescue Mom yang bertujuan untuk memenuhi permintaan terakhir sang Ibu agar dikremasi sesuai keyakinannya sebagai seorang Buddhist, diiringi musik dan tarian, serta abunya dimasukkan ke dalam kloset; bukan dikuburkan secara Nasrani sesuai keinginan orang tuanya.

Demikianlah, mereka akhirnya out of eden, meninggalkan rimba raya tempat mereka menempa diri, menggunakan sebuah bus sekolah tua yang dikomandoi oleh Ben, untuk kembali berhadapan dengan peradaban modern di kota. Sepanjang perjalanan, nilai-nilai yang mereka pahami sebagai ‘orang-orang liar’ mengalami benturan-benturan dengan nilai-nilai yang dianut ‘masyarakat beradab’.

Captain Fantastic

Film ini kaya akan antitesis terhadap keseluruhan susunan peradaban modern. Mulai dari kritik terhadap budaya belanja sebagai bentuk dominan dari interaksi masyarakat konsumen, hingga organized religion yang dirancang untuk menyebarkan rasa takut sehingga menumbuhkan kepatuhan buta. Berikutnya adalah pola makan tidak sehat yang di salah satu scene membuat anak-anaknya keheranan dengan bentuk badan kebanyakan orang yang menurut mereka seperti kuda nil. Hal ini yang kemudian membuat mereka pergi dari sebuah restoran tanpa membeli apapun karena tak ada actual food di menunya. Domestikasi yang membuat hewan-hewan menjadi terlampau jinak sekilas ditampilkan dalam satu scene saat mereka hendak berburu hewan di sebuah peternakan. Mereka tak berhasrat untuk membunuh hewan tak berdaya-hidup yang sama sekali tak melawan atau menghindar di hadapan ancaman panah. Moralitas juga dipertanyakan dengan tayangan saat Ben keluar dari bus tanpa sehelai pakaian dan seorang nenek tua yang melihatnya refleks merunduk malu, ia menanggapi, “Ini hanya penis, setiap lelaki memilikinya”.

Mission Free The Food yang berupa shoplifting dengan teknik rekayasa sosial di sebuah supermarket dilakukan karena tak lagi kuasa menahan lapar. Noam Chomsky Day dirayakan untuk merayakan keberhasilan misi tersebut serta memperingati hari ulang tahun Noam Chomsky di hari yang sama sekali bukan ulang tahunnya. Mungkin mengkritisi selebrasi-selebrasi tak penting yang biasa dilakukan masyarakat modern. Seperti pertanyaan balik Ben saat Rel, salah satu anaknya, mempertanyakan mengapa keluarga ini justru merayakan ulang tahun Noam Chomsky, bukan Hari Natal sebagaimana yang dirayakan semua orang di dunia: “Kau lebih suka merayakan dongeng-dongeng fiktif dibandingkan kehidupan seorang humanis yang memperjuangkan kesadaran dan kemanusiaan?”

Captain Fantastic

Hal yang secara personal saya catat dari film ini adalah cara Ben mendidik anak-anaknya. Selain latihan fisik dan membiasakan diri dengan berbagai literatur sejak dini, Ben juga selalu mengasah pemikiran kritis anak-anaknya. Misalnya ketika meminta anaknya menceritakan buku yang sedang dibaca, Ben mendorong anaknya untuk menceritakan kesan yang didapat serta menganalisanya secara spesifik. Contoh lainnya adalah saat meminta Zaja, anaknya yang berusia 8 tahun, menjelaskan Bill of Rights dan dampaknya bagi masyarakat Amerika Serikat dengan kata-katanya sendiri. Ia juga sangat terbuka. Sebagaimana saat Nai, anaknya yang berusia 7 tahun, memberondongnya dengan pertanyaan tentang “apa itu pemerkosaan?”, “mengapa lelaki menempelkan penisnya ke vagina perempuan?”, “bukankah itu alat untuk buang air kecil?”; Ben menjelaskannya dengan detil dan bahkan memberikan hadiah buku The Joy of Sex saat perayaan Noam Chomsky Day untuk dibacanya. Ben juga berusaha membuka ruang-ruang diskusi dengan anak-anaknya dalam pengambilan keputusan di keluarganya, meski beberapa kali terkesan otoriter.

Di luar bukti-bukti positif yang ia tunjukkan dengan keberhasilan teknik parenting-nya, ada banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan perkembangan psikologis maupun kondisi sosial dan zaman yang mau tak mau tak dapat dihindari anak-anaknya. Agaknya rangkaian pengalaman, konflik, dan perdebatan selama perjalanan misi menyelamatkan istrinya ini sedikit melunakkan kepala Ben. Sebuah awal baru yang disimbolkan dengan mencukur habis brewoknya. Mereka akhirnya benar-benar meninggalkan hutan dan membangun rumahnya di daerah pedesaan. Beternak unggas, menanam buah-buahan dan sayuran (baca: mendomestikasi), serta sarapan sereal (yang kemungkinan bukan actual food). Nai, si bungsu lucu yang selalu ingin tahu itu pun terlihat asik membaca sebuah buku cerita bergambar (yang sepertinya bukan buku The Joy of Sex) dan tidak lagi berteman dengan buku-buku tebal. Lebih dari itu, Ben pun pada akhirnya menyekolahkan anak-anaknya. Sesuatu yang sebelumnya ia kritisi habis-habisan.

Film ini memang bukan film pertama yang bercerita tentang seseorang yang meninggalkan peradaban dan tinggal di kesunyian alam liar. Kritik-kritik yang disajikan pun sudah diulas oleh banyak pemikir sejak lebih dari dua abad lalu. Namun, menonton film ini seolah mengingatkan kembali bahwa kita telah mengamini begitu banyak hal di masyarakat kita tanpa pikiran dan keberanian untuk mempertanyakannya. Terkadang kita sadar, namun lebih seringnya secara tidak sadar kita mewariskan nilai-nilai ini kepada generasi di bawah kita. Sebagian orang-orang yang sadar mencoba ‘menetralisir’ anak-anaknya dengan pendidikan homeschooling agar tak tercemar pergaulan yang buruk, namun bukankah hal tersebut justru mencerabut anak-anak dari lingkungan sosial mereka? Maka bersikap kompromis bisa jadi bukan pilihan yang salah, meski tak sepenuhnya benar pula.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *